News Flash

Rabu, 03 Februari 2010

Sekwan Menghadap BPK Makassar

Terkait Tuntutan Tunjangan Gaji Mantan Anggota DPRD

SINJAI-RB. Rencana Sekertaris Dewan Sinjai (Sekwan) Andi M Dahlan mendatangi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Makassar dalam waktu dekat ini, bukan karena memenuhi panggilan. Namun atas inisiatif sendiri untuk menanyakan jalan keluar dari tuntutan mantan anggota DPRD periode lalu atas gaji tunjangan bulan Oktober 2009.

Memang, pekan ini Sekwan sudah menerima Fatwa Mahkamah Agung (MA) dari mantan anggota DPRD yang menuntut gajinya. Namun, menurut Andi M Dahlan, itu belum jelas maksudnya.

"Iya, kita telah menerima Fatwa itu, kita akan usahakan tapi belum jelas maksudnya. Olehnya itu, saya akan ke BPK Makassar untuk konsultasi tentang itu,"ujarnya saat dihubungi Radar Bulukumba via telpon .

Menurut Sekwan isi Fatwa MA tersebut menyebutkan bahwa hak-hak dan kewajiban Anggota DPRD lama tetap diperhatikan untuk menjaga kefakuman atau kekosongan. tentang maksud fatwa tersebut, dirinya juga akan menanyakan langsung ke MA.

Sekwan mengakui kalau gaji mantan anggota DPRD periode lalu dipending. Hal itu karena adanya larangan dari Departemen Dalam Negeri.

Lanjut Sekwan, mantan anggota DPRD saat ini menuntut gaji bulan Oktober sejumlah Rp 260 juta untuk 30 mantan anggota DPRD. (mj)
Selengkapnya >>

Kopi Borong Penuh Inovasi dan Obsesi

Siap Bersaing di Luar Sulsel

Bagi warga Sinjai yang gila kopi, tentu pernah merasakan aroma Kopi Borong. Kemasan yang modern adalah hasil obsesi bertahun-tahun.

Berawal dari usaha coba-coba delapan tahun lalu, tak tahunya menjadi industri rumah tangga. Begitulah kesan pemilik Usaha Kopi Borong kepada Syamsul Bahri kepada radar Bulukumba, Rabu 3 Februari 2010. Menurut ayah 4 anak ini, usahanya dirintis secara serius tahun 2002, setelah mengamati respon masyarakat yang sangat mendukung.

Dengan semangat pantang menyerah, berbagai masalah pun dilalui. Kopi Borong akhirnya mendapat bantuan pemerintah berupa modal dan mesin bubuk kopi.

Sejak adanya mesin tersebut, produksi Kopi Borong meningkat hingga 100 pcs per hari (kemasan,red). Padahal sebelumnya lebih kurang 10 pcs perhari.

"Saya mulai kerja tahun 2002. Belum ada mesin. Itupun saya kerja dirumah,"ungkapnya.

Memang dari pengakuannaya, saat ini dia mendapat bantuan Dinas Perdagangan termasuk gedung tempat produksi Bubuk Kopi.

Namun menurutnya itu belum tentu sudah maksimal. Pasalnya, mesin yang diberikan bukan keluaran baru. Sehingga baginya, masih kurang modern.

"Kendalanya itu, kadang kita membuat kopi pakai mesin, tapi tidak punya standar. Kadang bubuk kopi tidak rata,"ujarnya.

Saat ini, Usaha Kopi Borong mampu memproduksi kurang lebih 3000 kg per bulannya. Itupun masih kurang dibanding permintaan pelanggan. Menurtnya, saat ini pelanggannya tersebar di Kabupaten Sinjai. Bahkan dijual di Bandara Sultan Hasanuddin Maklassar sebagai salah satu oleh-oleh Sulawesi Selatan.

Meski namanya tak sepopuler dengan kopi produksi perusahaan besar, namun inovasi terus dikembangkan. Termasuk kemasan dan Manajemen. Menurut Syamsul, sejak tahun 2009 lalu, kemasan sudah berganti dari plastik biasa menjadi Aluminium Foil.

"Sekarang kita selalu berinovasi meski hanya kecil. Jangan liat kecilnya tapi hasilnya. Mungkin kami hanya kurang modal untuk membuat perusahaan besar,"katanya.

Selain kemasan, Usaha Kopi Borong tak melupakan namanya manajemen. Dia saat ini mulai mencari peluang agar bisa menjadi usaha besar. Termasuk manajemen produksi hingga pemasaran.

"Kami selalu belajar manajemen. Sehingga ada bekal menjaga dan memperbaiki mutu. Apalagi kita sudah memiliki 4 tenaga kerja,"ujarnya.

Saat ini Kopi Borong telah mmeproduksi dalam 2 kemasan kopi. Masing-masing 100 dan 200 gram per pcs. Kedepannya, mereka akan menjual kopi ke luar Sulawesi Selatan.

"Itu adalah target kita. Tinggal memperbaiki manajemen pemasaran dulu,"ujarnya.(m2)
Selengkapnya >>

Petani Rumput Laut 'Menjerit'

Butuh Bantuan Pemerintah Basmi Hama

SINJAI-RS. Puluhan petani rumput laut yang berada di Desa Kambuno Kecamatan Pulau Sembilan 'menjerit' akibat hama melanda tanamannya. Petani mengaku gagal panen dan rela menanggung resiko kerugian. Hal tersebut diutarakan Kasman, salah seorang petani rumput laut di desa Kambuno Pulau Seribu. Menurutnya, rumput laut yang ditanam hanya bisa bertahan hingga 15 hari. Melewati hari tersebut, lanjutnya, batang tanaman rumput lautnya akan berwarna kuning. Sehingga rumput laut akan rontok jika sudah memasuki hari ke-25.

"Kalo masuk hari ke-25, biasa jatuh-jatuh. Mungkin kena hama,"ungkapnya kepada Radar Sinjai Selasa (2/2) kemarin.

Akibat hama tersebut hasil panen berkurang drastis dibanding tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, setiap petani hanya memanen maksimal 1 ton. Padahal tahun 2007, mampu menghasilkan ratusan ton.

"Dulu kita bisa panen ratusan ton. Sekarang biar satu ton tidak ada padahal bibitnya belum dibayar,"katanya.

Memang tahun 2007 lalu, petani Rumput laut di desa ini mampu menghasilkan ribuan ton. Bahkan menurut Kasman pernah menjual rumput laut hingga miliaran rupiah. Lantas mendapat bantuan dari pemerintah kabupaten sebesar Rp 700 hingga Rp 800 juta. Namun sekarang mereka hanya mendapat bantuan Rp 80 juta karena produksi berkurang.

"Kita sekarang tinggal mendapat bantuan 80 juta. Itupun macet-macet. Karena gagal panen terus,"keluh Kasman.

Memang, rumput laut adalah salah satu komoditi yang diharapkan menjadi sumber pemasukan di Kabupaten Sinjai. Namun, masalah yang dihadapi petani ini, belum mendapat solusi. Kasman mengaku tidak pernah diperhatikan pemerintah. Pada dia telah berkali kali meminta bantuan untuk mendeteksi hama atau penyebab rontoknya tanaman rumput lautnya.

"Sudah berkali-kali saya tanyakan. Tapi belum ada solusinya,"ungkapnya. (mj)
Selengkapnya >>

Jurnalis Sinjai Balas Kekalahan

SINJAI-RB. Tim jurnalis dari Sinjai akhirnya bisa bernafas lega setelah mengalahkan tim jurnalis dari Kabupaten Bone.

Tapi kali ini bukan laga dalam ajang lomba menulis atau jurnalistik lainnya, melainkan Pada laga kandang melawan tim keseblasan jurnalis Kabupaten Bone.

Tim kesebelasan Jurnalis Sinjai hanya menang tipis 3-2. Padahal sebelumnya, saat bertandang ke Bone beberapa waktu lalu tim Jurnalis Sinjai di pecundangi 5-1.

"Syukur sudah menang, hampir kita malu kedua kalinya. Tapi menang kalah sama saja ini hanya untuk hiburan kita," ujar Kasubag Humas Kabupaten Sinjai Irwan Suaib setelah bertanding Sabtu (30/1) lalu. (mj)
Selengkapnya >>

Pelabuhan Umum Larea-rea Sinjai di Ujung Tanduk

*Kini Hidup dari Kapal Angkutan Barang

Tak ada hiruk-pikuk penumpang layaknya pelabuhan umum biasanya. Hanya tampak dua kapal pengangkut barang yang bersandar. Padahal pelabuhan Larea-rea didesain sebagai pelabuhan multi fungsi.

Fungsi utama sebagai pelabuhan pengangkut penumpang berubah sebagai pengangkut barang. Itulah kenyataannya, sejak Desember 2009, pelabuhan yang masuk wilayah Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Timur ini hanya bisa dialihfungsikan sebagai pelabuhan untuk mengangkut batu besi.

Bukan tanpa alasan, kapal penumpang tidak kunjung tiba di pelabuhan ini. Dari sisi konstruksi saja kapal penumpang tak memungkinkan bersandar. Pasalnya, kedalaman dermaga masih dangkal hanya 5 meter. Sementara kapal penumpang rata-rata memiliki badan besar. sehingga untuk bersandar membutuhkan kedalaman setidaknya 8 meter.

Meski demikian, pelabuhan ini toh dipaksa 'kerja rodi'. Sebuah kapal induk pengangkut batu besi direncanakan merapat 10 Januari mendatang. Untuk itu, disiapkan kapal tangker yang akan mengantar batu besi ke kapal induk.

Kapal tangker ini hanya berkapasitas maksimal 2000 ton. Sementara, direncanakan pada pengangkutan perdana batu besi nanti diperkirakan kapal induk akan mengangkut antara 20.000 ton hingga 35.000 ton. Kondisi ini cukup memprihatinkan karena pelabuhan ini seakan tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Pelabuhan ini kini butuh penyesuaian agar menarik investor untuk membantu pengembangannya. Sebut saja perlunya pembangunan dermaga Khusus dengan biaya besar jika harus ditambahkan lebih menjorok ke laut. Sementara dari sisi pendapatan, memang pelabuhan ini belum menjanjikan. Minimnya calon penumpang akan merugikan kapal penumpang yang bersandar. sehingga tujuan utamanya sebagai pelabuhan umum pun mati suri.

"Bersyukur bisa dimanfaatkan sebagai pelabuhan untuk mengangkut batu besi," ujar Kepala Syahbandar, Yansen Rampu ketika ditemui di ruangannya, belum lama ini. Dia juga membantah jika sebagian masyarakat mengira bahwa pelabuhan ini beralih fungsi.

Dia menegaskan pelabuhan ini tetap difungsikan sebagai pelabuhan umum. Cuma, lanjutnya, karena tidak ada penumpang sehingga tidak ada aktifitas pengangkutan penumpang. Pelabuhan ini, katanya, tidak pernah ditutup untuk mengangkut penumpang.

Sejak adanya aktifitas penimbunan batu besi yang rencananya akan diangkut ke Cina, maka warga yang biasanya memanfaatkan pelabuhan ini sebagai tempat rekreasi tidak lagi leluasa. Penjagaan ketat dari pihak Syahbandar sudah berjaga dipintu masuk dermaga.

Bukan karena kerja sembunyi, tapi menghindari bahaya truk pengangkut batu besi yang setiap saat melintas keluar masuk dermaga. Aktifitas ditempat ini terjadi dari pagi hingga malam hari. Terlebih tidak lama lagi, kapal induk pengakut batu besi ini akan berada diwilayah pelabuhan ini. Sehingga aktifitas penumpukan batu besi semakin padat. Soal pedapatan dari pelabuhan ini, pihak syahbandar belum mau angkat bicara.

"Secara rinci tidak bisa disebutkan. Tapi yang jelas untuk daerah cukup besar jika dibandingkan dengan yang diberikan ke pusat. Meskipun ini dikelola oleh pusat yakni dirjen perhubungan laut," pinta Yansen. (*)
Selengkapnya >>

 

Home | Free Host 000webhost | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

Bojebook ©  | Powered : Blogger